Jumat, 12 April 2013

Psikologi Umum



MAKALAH PSIKOLOGI UMUM
MOTIVASI, KEPRIBADIAN, SIKAP DAN PRASANGKA, SERTA EMOSI

Diajukan sebagai tugas mata kuliah

Disusun Oleh         :
1.     Serifah Dini Fitria                  (PAI Pagi/Kel. 10)
2.     Nurul Rohmatun Umroh        (PAI Pagi/Kel. 10)
3.     Moch. Khamza Salam           (PAI Pagi/Kel. 10)
4.     Fajar Ikhwan M.                    (PAI Pagi/Kel. 10)


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN GIRI
SURABAYA
2012

 

KATA PENGANTAR

P
uji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya MAKALAH PSIKOLOGI UMUM tentang Motivasi, Kepribadian, Sikap dan Prasangka serta Emosi. Dengan adanya MAKALAH ini kita dapat mengenal diri sendiri secara lebih baik, karena kita mengendalikan pikiran dan perilaku sebagian besar sampai batas memahami diri sendiri – sebatas menyadari siapa kita.

Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas mata pelajaran PSIKOLOGI UMUM di FAI UNSURI SIDOARJO. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki kami. Serta kami mengucapkan banyak terima kasih untuk pihak-pihak yang telah membantu kami. Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

Sidoarjo, Oktober 2012


Penyusun




DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                            ii
Daftar Isi                                                                                      iii

BAB 1 - PENDAHULUAN                                                               1
A.         Latar Belakang                                                          1
B.         Rumusan Masalah                                                    1
C.         Tujuan                                                                      1

BAB 2 – PEMBAHASAN                                                                2
A.         Motif dan Motivasi                                                     2
B.         Kepribadian                                                               7
C.         Sikap dan Prasangka                                                 14
D.         Emosi                                                                       17

BAB 3 – PENUTUP                                                                       18
A.         Kesimpulan                                                               18
B.        Kesan                                                                       19
                   
Daftar Pustaka                                                                              20




1
PENDAHULUAN


A.             Latar Belakang
Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa Inggris, Psychology. Kata psychology merupakan dua akar yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu psyche yang artinya jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa.
Pada makalah ini akan membahas bagian dari psikologi yaitu Motif & Motivasi, Kepribadian, Sikap dan Prasangka serta Emosi untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita.

B.             Rumusan Masalah
1.     Apa itu Motif dan Motivasi?
2.     Apa definisi Kepribadian?
3.     Bagaimana pembentukan Sikap dan Prasangka?
4.     Apa itu Emosi?

C.             Tujuan
1)    Menjelaskan arti motif, motivasi, kepribadian, sikap dan prasangka, serta emosi
2)    Menjelaskan hubungan antara motif dan motivasi
3)    Menjelaskan tentang teori-teori yang terkait
2
PEMBAHASAN

BAB I – MOTIVASI
A.             Motif dan Motivasi
Secara etimologi, motif dalam bahasa inggris motive, berasal dari motion, yang berarti “gerakan” atau “sesuatu yang bergerak”, yang menunjuk pada gerakan manusia sebagai “tingkah laku”. Dalam psikologi motif berarti rangsangan pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku itu.
Dalam motif pada umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu kebutuhan dan tujuan. Proses interaksi timbal balik antara kadua unsur ini terjadi dalam tubuh manusia, walaupun dapat dipengaruhi oleh hal-hal dari luar diri manusia. Karena itu, bisa saja terjadi perubahan motivasi dalam waktu singkat.

Sedangkan menurut Dister, sstiap tingkah laku manusia adalah hasil dari hubungan timbal balik antara tiga faktor, yaitu:

1.     Dorongan spontan manusia, yaitu dorongan yang tidak ditimbulkan dengan sengaja. Seperti dorongan seksual, nafsu makan dan kebutuhan akan tidur.
2.     Ke-aku-an manusia, dimana manusia menyetujui dorongan spontan tadi untuk menjadi miliknya, sehingga kemudian menjadi sebuah “kejadian”. Misalnya dengan menunda makan, walaupun ia merasa lapar.
3.     Lingkungan hidup manusia.


B.             Lingkaran Motivasi (Motivational Cycle)
Tingkah laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai: “tingkah laku yang dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian suatu tujuan agar suatu kebutuhan dapat terpenuhi”. Rumusan tersebut mengandung beberapa unsur yang membentuk “motivational cycle”.


Rounded Rectangle: Kebutuhan
 
                                  

 




1.     Kebutuhan
Kebutuhan merupakan suatu yang fundamental bagi kodrat manusia individual. Motif disamping merupakan dorongan fisik, juga orientasi kognitif elementer yang diarahkan pada pemuasan kebutuhan. Energi seperti ini bukan tanpa tatanan. Ada suatu hubungan dunamis antara motivasi dan tujuan.
2.     Teori - teori Kebutuhan
a.            Hierarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan pada manusia sebagai motivator membentuk suatu hierarki yang terdiri atas physiological needs, safety needs, belongingness and love needs, esteem needs, dan self actualization needs.
Menurut Maslow, kebutuhan dasar harus lebih dahulu terpenuhi sebelum bweranjak pada kebutuhan psikologis.

b.            Teori ERG
ERG (Existence, Relatedness, Growth) sebagaimana diungkap Aldefder, merupakan penghalusan dari system kebutuhan Maslow, dengan hanya tiga katagori kebutuhan. Meskipun unrutan kebutuhan serupa, namun ide hierarki tidak dimasukkan, dan meskipun suatu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan tersebut dapat terus berlangsung sebagai pengaruh kuat dalam keputusan.
c.             Teori Motivasi Dua Faktor
Dengan menggunakan teknik insiden kritis, Frederick Herzberg menganalisa sata tentang kepuasan dan ketidakpuasan orang dalam pekerjaan mereka, dan menghasilkan dua kumpulan factor. (1) Factor-faktor yang cenderung dapat memotivasi kerja disebut motivator, meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, promosi, pekerjaan itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi. (2) factor-faktor yang berkaitan dengan ketidakpuasan disebut factor hygiene, meliputi gaji, pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, kebijakan organisasi, dan hubungan kerja.
Faktor Hygiene
Motivator
Gaji
Prestasi
Pengawasan
Penghargaan
Keamanan kerja
Tanggung jawab
Kondisi kerja
Promosi
Kebijakan organisasi
Pekerjaan itu sendiri
Hubungan kerja
Potensi bagi pertumbuhan pribadi
Menurut Herzberg untuk memotivasi seorang pegawai, sebagai langkah awal, seorang Menajer pertama-tama harus memenuhi, atau sekurang-kurangnya memelihara kebutuhan dasar. Setelah hal itu terpenuhi, kebutuhan motivasi menjadi priorotas.
Ada banyak kemiripan dalam katagori kebutuhan Maslow, Alderfer, dan Herzberg. Dengan menggunakan istilah-istilah serupa, setiap system menggambarkan aktualisasi diri, pertumbuhan, dan motivator. Sedangkan Faktor Hygiene cenderung memuaskan kebutuhan aksistensi.
d.            Teori Desakan Kebutuhan Murray
Teori ini juga disebut dengan Teori Kebutuhan Manifestasi. Murray yakin bahwa orang dapat dikelompokkan menurut kekuatan barbagai kebutuhan yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi prilaku seseoarang terdiri atas dua komponen :
1)    Komponen kualitatif, sebagai arah sasaran kebutuhan
2)    Komponen kuantitatif, sebagai energi kebutuhan untuk mencapai sasaran

e.            Teori Kebutuhan untuk Berprestasi McClelland
Konsep Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) disingkat dengan sebuah symbol yang kemudian menjadi sangat terkenal: n-Ach. Menurut McClelland, orang yang memiliki n-Ach yang tinggi mempunyai kepuasan bukan karena imbalan materi tetapi karena berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
f.              Teori Harapan Vroom
Teori ini berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan dengan tiga asumsi :
1)    Harapan sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut
2)    Setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu.
3)    Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa berat mencapai hasil tersebut.

3.     Tingkah Laku
Unsur kedua dari lingkaran motivasi ini dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang sebenarnya sebagai serentetan kegiatan yang kadang dilakukan secara bersamaan.

4.     Tujuan
Tujuan adalah unsure yang ketiga dari lingkaran motivasi, yang berfungsi untuk memotovasi tingkah laku. Tujuan tingkah laku acap kali tidak hanya satu, selain tujuan primer, ada pula tujuan sekunder. Tujuan juga dapat berupa sesuatu yang konkrit atau yang abstrak.

C.             Klasifikasi Motif
Banyak sekali klasifikasi motif, sesuai dengan sesuatu yang mendasarinya. Klasifikasi yang banyak dikenal antara lain :
1.     Motif Primer dan Motif Sekunder
Motif Primer sangat bergantung pada keadaan fisio-kemis dalam tubuh organic seseorang, sedangkan Motif Sekunder adalah semua motif yang tidak berlangsung dalam tubuh manusia.


2.     Motif Instrinsik dan Motif Ekstrinsik
Motif Instrinsik adalah motif yang timbul dari dalam dan Motif Ekstrinsik ditimbulkan dari luar.
3.     Motif Tunggal dan Motif Bergabung
Motif Tunggal dan Motif Bergabung adalah klasifikasi motif berdasarkan banyaknya.
4.     Motif Mendekat dan Motif Menjauh
Motif Mendekat dan Motif Menjauh adalah klasifikasi motif berdasarkan pada reaksi organisme terhadap rangsangan yang datang.
5.     Motif Sadar dan Motif Tak Sadar
Motif Sadar dan Motif Tak Sadar didasarkan pada taraf kesadaran manusia pada motif yang melatarbelakangi tingkah lakunya.
6.     Motif Biogenetis, Sosiogenetis dan Teogenetis
Didasarkan pada asalnya, Motif Biogenetis adalah motif yang berasal dari kebutuhan organisme. Motif Sosiogenetis adalah motif yang dipelajari dan berasal dari lingkungannya. Dan Motif Teogenetis adalah yang berasal dari interaksi manusia dengan Tuhan.





BAB II – KEPRIBADIAN
A.             Definisi Kepribadian
Kata “kepribadian “ (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin persona. Persona berarti topeng (mask) yng dipakai didalam sandiwara/drama Yunani, yang dipergunakan juga oleh pemain-pemain drama bangsa Romawi kurang dari 100 sebelum Masehi. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran social tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, kemudian individu itu diharapkan bertingkah laku sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya.
Kepribadian memiliki beberapa unsur, yakni sebagai berikut :
1.     Kepribadian itu merupakan organisasi yang dinamis. Dengan kata lain, ia tidak statis, tetapi senantiasa berubah setiap saat.
2.     Organisasi tersebut terdapat dalam diri individu. Jadi, tidak meliputi hal-hal yang berada diluar diri individu
3.     Organisasi itu berdiri atas sistem psikis, yang menurut Allport meliputi, sifat dan bakat, serta sistem fisik (anggota dan organ-organ tubuh) yang saling terkait.
4.     Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap individu terhadap lingkungannya.


B.             Teori – teori Kepribadian
1.     Teori kepribadian psikoanalis
Freud membangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan konflik satu sama lain. Konflik dasar dari tiga sistem kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan individu yang menuntut pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, dan superego yang saling bekerja sama dalam mempengaruhi perilaku manusia.
2.     Teori-teori sifat (Trait Theories)
Yang dimaksud dengan teori-teori sifat (trait theories) pada dasarnya meliputi “psikologi individu” Gordon Williard Allport, “psikologi konstitusi” Wlliam Sheldon, dan “teori faktor” Raymond Cattell (Hall & Lindzey, 1993:9), Teori-teori sifat ini juga dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap dari situasi ke situasi.
3.     Teori kepribadian behaviorisme
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku.

4.     Teori psikologi kognitif 
Menurut para ahli, teori psikologi kognitif berawal dari pandangan psikologiGestalt Christian von Ehrenfels di Jerman beberapa saat sebelum perang Dunia II. Mereka berpendapat bahwa dalam memersepsi lingkungannya, manusia tidak sekedar mengandalkan diri pada apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi masukan dari penginderaan itu diatur, saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, selanjutnya dijadikan awal dari suatu perilaku.

C.             Proses Perkembangan Kepribadian
Pada hakikatnya, kepribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek perkembangan,seperti perkembangan fisik, motorik, mental, sosial, moral, tetapi melebihipenjumlahan semua aspek perkembangan tersebut. Kepribadian merupakan satukesatuan aspek jiwa dan badan, yang menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkah laku dan tindakan seseorang. Ini disebut integrasi. Pembentukan pola kepribadian initerjadi melalui proses interaksi dalam dirinya sendiri, dengan pengaruh-pengaruh darilingkungan luar.
D.             Tipe – Tipe Kepribadian
Hippocrates dan Gelenus (400 SM dan 175 M) mengemukakan bahwa manusia dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat cair yang ada dalam tubuhnya, yaitu :
1)    Melancholikus (melankolisi), yaitu orang-orang yang banyak empedu hitamnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu bersikap murung atau muram, pesimistis, dan selalu menaruh rasa curiga.
2)    Sangunicus (sanguinisi), yakni orang-orang yang banyak darahnya, sehingga orang-orang tipe ini selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang atauselalu gembira, dan bersikap optimis.
3)    Flegmaticus (flegmatisi), yaitu orang-orang yang banyak lendirnya. Orang tipe ini sifatnya lembam dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah.
4)    Cholericus (kolerisi), yakni yang banyak empedu kuningnya. Orang tipe ini bertubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri,sifatnya garang dan agresif.

E.             Pengukuran – Pengukuran Kepribadian
Sifat kepribadian biasanya diukur melalui angka rata-rata pelaporan diri (self-report) kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory). Ada beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidi kepribadian. Berikut ini adalah beberapa diantaranya :
1)    Observasi Direk 
Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya indikator ciri-ciri yang hendak diteliti. Observasi direk diadakan dalam situasi yang dikontrol, atau dapat dibuat replikasinya. Ada tiga tipemetode dalam observasi direk, yaitu (a) tipe sampling, (b) incident sampling, (c) metode buku harian terkontrol
2)    Wawancara (Interview)
Menilai kepribadian dengan wawancara berarti mengadakan tatap muka danberbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai.Ada dua jenis wawancara (Muhadjir, 1992), yaitu (a) stress interview (untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan),(b) exhaustive interview (cara interview yang berlangsung lama dan diselenggarakan nonstop
3)    Tes Proyeksi
Tes proyeksi adalah pengungkapan aspek psiklogis manusia dengan menggunakan alat proyeksi. Tes ini berdasar pada eksternalisasi aspek-aspek psikis terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimulasi/rangsang yang kurang atau tidak berstruktur yang sifatnya ambigious agar dapat memancing berbagai alternatif jawaban tanpa dibatasi oleh apapun.
4)    Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang samauntuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yangmudah dinilai, seringkali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan.



F.              Kepribadian yang sehat
Pada dasarnya, pembentukan dan pertumbuhan kepribadian yang sehat dan matang dipengaruhi oleh motivasi, propium, dan otonomi fungsional. Motivasi merupakan kekuatan-kekuatan yang mendorong dan menarik, atau suatu cara pengaturan perbuatan manusia.
1.     Tanda-tanda kepribadian yang sehat
·       Kepercayaan mendalam pada diri sendiri dan orang lain.
·       Tidak ragu-ragu, tidak malu, tetapi berani.
·       Inisiatif berkembang dan tidak selalu merasa dirinya bersalah atau berdosa.
·       Tidak merasa minder, tetapi mempunyai semangat kerja.
·       Bersikap jujur terhadap diri sendiri.
·       Mampu berdedikasi
·       Penyelidikan diri sendiri.
·       Senang kontak (berhubungan) dengan sesama.
·       Generatifitas (kebapak-ibuan).
·       Integritas, yakni : (1) mempunyai kontinuitas dalam hidupnya, masa lampau tak disangkal, dan dengan gairah memandang masa depan; (2) kesanggupan untuk memperjuangkan nilai-nilai hidup yang nyata, bukan seorang penjual diri, oportunis, penghianat; (3) berani memimpin / bertanggung jawab, berani menanggung resiko, mempunyai jiwa kepemimpinan, hidup dianggapnya sebagai tantangan.
2.     Tanda-tanda kepribadian yang kurang sehat
·       Tak mampu malakukan persahabatan, mengisolasikan diri.
·       Daya konsentrasi buyar, ketekunan dalam pekerjaan hancur, terlalu banyak melamun.
·       Penyangkalan terhadap nama, asal usul, suku bangsa, masa lampau, dan sebagainya.
·       Tak mampu memperjuangkan diri, bahkan kadang-kadang timbul keinginan mengakhiri hidup, bertalian dengan kebosanan hidup.
·       Sifat ingin membalas dendam, bereaksi terlalu radikal terhadap orang lainmaupun dirinya sendiri, tidak mengakui dan tidak menerima masa lampaunya,lalu mau mengubah diri secara sangat radikal (identitas negatif).

G.            Kepribadian Abnormal
1)    Definisi perilaku abnormal
Orang yang tingkah lakunya sangat berbeda dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat disebut “abnormal”. Karena itu, satu kriteria terkenal untuk mendefinisikan perilaku abnormal adalah pelanggaran norma soaial (Calhoun& Accella, 1990; Atkinson dkk, tt; Supratiknya, 1995; Soedjono, 1983), disamping penyimpangan norma-norma statistik, ketidaksenangan pribadi, perilaku maladaptif, gejala “salah suai”, tekanan batin, dan ketidakmatangan.
2)    Bentuk – Bentuk Kepribadian Abnormal
a.     Neurosis
Menurut kacamata behavioristik inti neurosis adalah gaya hidup maladaptif, berupa tingkah laku yang bersifat defensif dengan tujuan menghindari atau mengurangi rasa cemas.
b.     Gangguan psikosis
Gangguan psikosis merupakan suatu gejala terjadinya ”denial of major aspects of reality”.
c.     Bunuh diri
Pada umumnya, kasus bunuh diri dilakukan karena stres yang ditimbulkan oleh berbagai sebab, antara lain (Supratiknya, 1995) :depresi, krisis dalam hubungan interpersonal, kegagalan dan devaluasi diri, konflik batin, kehilangan makna dan harapan hidup.




BAB III – SIKAP DAN PRASANGKA

A.             Sikap
Sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

v Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
A.    Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
B.    Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
C.    Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
D.    Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
E.    Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
F.    Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

B.             Prasangka
Prasangka sosial (social prejudice) merupakan gejala psikologi sosial. Prasangla sosial ini merupakan masalah yang penting dibahas di dalam intergroup relation. Prasangka sosial atau juga prasangka kelompok yaitu suatu prasangka yang diperlihatkan anggota-anggota suatu kelompok terhadap kelompok-kelompok lain termasuk di dalamnya para anggotanya.
Beberapa ahli meninjau pengertian prasangka sosial dari berbagai sudut :
1.     Feldman (1985)
Prasangka sosial adalah sikap negatif terhadap kelompok sosial tertentu yang hanya didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok itu.
2.     Mar’at (1981)
Prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negative tetapi dugaan itu lebih bersifat negative.
3.     Kimball Young
Prasangka adalah mempunyai ciri khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya ingroup dan outgroup.
4.     Sherif and Sherif
Prasangka sosial adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti kepada kelompok lain beserta anggotanya.
Dari pendapat-pendapat para ahli tersebut mempunyai kecenderungan bahwa prasangka sosial adalah suatu sikap negatif yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.
Prasangka sosial berhubungan dengan deskriminasi karena definisi prasangka sosial sendiri cenderung mengarah ke hal negatif dalam suatu kelompok. Menurut Sears,dkk (1991) bahwa deskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang berdasarkan (atau setidaknya dipengaruhi oleh) keanggotaan kelompoknya. Deskriminasi dapat diwujudkan dalam bentuk perlakuan yang berbeda yang didasarkan pada kelompok. Dapat juga dilakukan dengan perilaku menyerang atau menyakiti anggota kelompok lain.







BAB IV – EMOSI

A.             Hakekat Emosi
Darimana emosi itu muncul? Apakah dari pikiran atau dari tubuh? Pada hakikatnya setiap orang mempunyai emosi, dari bangun tidur pagi sampai malam hari, kita mengalami macam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula.
Lantas apa yang dimaksud dengan emosi? Menurut William James (dalam Wedge, 1995), menurut beliau mendefinisikan emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya. Crow dan Crow (1962), dia mengartikan emosi sebagai suatu kedaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian diri dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahtraan dan keselamatan individu.
Memang semua orang memiliki jenis perasaan yang serupa, namun intensipnya berbeda-beda, emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menajdi modal untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Semua itu tergantung pada emosi yang kita pilih dalam reaksi kita terhadap orang lain, kejadian-kejadian, dan situasi disekitar kita.
Disisi lain juga emosi itu kebanyakan cenderung untuk melakukan sesuatu hal yang jelek, dan jarang ada emosi yang bertujuan untuk hal yang baik.

B.             Macam – macam Emosi
Atas dasar aktivitasnya tingkah laku emosinal dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : (1) marah, orang bergerak menentang sumber frustasi, (2) takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi, (3) cinta, orang bergerak menuju sumber  kesenangan, (4) defresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri.

3
PENUTUP


A.             Kesimpulan
o   Secara etimologi, motif dalam bahasa inggris motive, berasal dari motion, yang berarti “gerakan” atau “sesuatu yang bergerak”, yang menunjuk pada gerakan manusia sebagai “tingkah laku”. Dalam psikologi motif berarti rangsangan pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku itu.
o   Kata “kepribadian “ (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin persona. Persona berarti topeng (mask) yng dipakai didalam sandiwara/drama Yunani, yang dipergunakan juga oleh pemain-pemain drama bangsa Romawi kurang dari 100 sebelum Masehi. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memainkan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya.
o   Sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
o   Prasangka sosial (social prejudice) merupakan gejala psikologi sosial. Prasangla sosial ini merupakan masalah yang penting dibahas di dalam intergroup relation. Prasangka sosial atau juga prasangka kelompok yaitu suatu prasangka yang diperlihatkan anggota-anggota suatu kelompok terhadap kelompok-kelompok lain termasuk di dalamnya para anggotanya.
o   Emosi sebagai suatu kedaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian diri dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahtraan dan keselamatan individu.

B.             Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Pemakalah menyadari bahwa dalampenulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu pemakalah membukadiri atas kritik dan saran yang membangun untuk penulisan makalah selanjutnya.


























DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi, Abu,2005. “Psikologi Perkembangan”. Jakarta : PT Rineka Cipta
Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia


0 komentar: