Minggu, 19 Mei 2013

Islam dan Globalisasi



MAKALAH METODE STUDI ISLAM
ISLAM DAN GLOBALISASI

Diajukan sebagai tugas mata kuliah

Disusun Oleh  :
 SERIFAH DINI FITRIA      (201205010089)
                        NURUL QOMARIYAH      (201205010088)
              



FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN GIRI
SURABAYA
2013

 

PENDAHULUAN

Apakah banyak ke – Islamian (nilai spiritual) tergeser dengan berkembangnya zaman di era globalisasi sekarang?
Pertanyaan ini barang kali menarik di kemukakan karena hingga saat ini di kalangan umat Islam sendiri terdapat pergeseran spiritualitas di zaman sekarang, dengan tidak merealisasikannya di dalam kehidupan sehari – hari.
Problematika global yang telah di hadapi umat islam di public yang telah terkontaminasinya Islam dengan kebiasaan yang bersifat negatif. Adalah dengan memperkuat nilai spiritual mulai sejak dini, sehingga ketika memasuki masa dimana manusia mudah terpengaruh akan kebiasaan yang baru muncul tanpa meneliti baik tidaknya dengan meninggalkan tradisi yang bersifat positif.
Di zaman sekarangpun banyak kalangan umat manusia yang belum bisa menganalisa kehidupan beragama Islam di globalisasi ini. Tinggal kita bisa memilah beberapa hal yang banyak timbul pada ideologi Islamic & global. Hal tersebut mendapat respon dari umat Islam baik dengan cara membenah diri dari segi apapun maupun dengan mengapresiasikannya dengan kritis dalam artian mengambil beberapa nilai positif dan membuang nilai – nilai negatif.








DAFTAR ISI

PENDAHULUAN                                                                                           ii
Daftar Isi                                                                                                         iii

BAB I              Latar Belakang                                                                       1
BAB II             Pembahasan                                                                            2
BAB III           Pemecahan Masalah                                                               8
BAB IV           Penutup                                                                                   9


Daftar Pustaka                                                                                                            10



 
BAB I
LATAR BELAKANG


Islam dan Globalisasi, sebagaimana diketahui membahas ajaran – ajaran dasar dari suatu agama pada zaman sekarang. Semua orang yang ingin melayani seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mengkonstruksi dan waspada dalam pengembang Islam. Mempelajari bab Islam dan Globalisasi ini kita akan membahas berdasarkan pada landasan kuat yang tidak mudah di ombang – ambing oleh peredaran zaman.
Dalam Islam sebenarnya lebih dari satu aliran agama pada saat ini,, salah satu pembahasan dalam makalah ini yaitu mengetahui lebih dalam makna Islamic dalam era globalisasi sekarang.












BAB II
PEMBAHASAN


Dewasa ini peradaban dunia secara keseluruhan berada dalam tatanan global yang secara mendasar ditopang oleh perkembangan teknologi komunikasi, transportasi, dan informasi. Semuanya ini membuat sunia semakin global dan sempit karena mudahnya di jangkau. Di sisi lain abad ini disebut sebagai pasca modern, suatu keadaan yang dapat dipandang sangat demokratis. Disebut sangat demokratis karena abad ini memberikan kesempatan terhadap semua untuk “berbicara membangun suatu peradaban semesta”. Inilah fenomena “globalisasi”, yang secara sederhana dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian budaya, politik, ekonomi dan informasi nasional bangsa – bangsa ke ruang lingkup dan tatanan baru sistem jaringan dunia (global).
Meskipun tidak selalu disebutkan secara eksplisit, pernyataan bahwa globalisasi mempunyai implikasi atau bahkan dampak atas berbagai bangsa, tampaknya didasarkan pada dua asumsi. Pertama, sekurang – kurangnya sampai taraf tertentu, pelaku atau subyek globalisasi adalah negara – negara industri maju. Dengan kata lain, globalisasi sampai tertentu merupakan kepanjangan tangan (extension) kepentingan negara industri maju. Kedua, kekhawatiran, kecemasan atau bahkan ketakutan akan pengaruh atau dampak terutama yang bersifat negatif dari globalisasi umumnya dirasakan oleh bangsa – bangsa dalam negara berkembang, yang lebih merupakan obyek daripada subyek globalisasi. Meskipun demikian, baik karena ketergantungan negara berkembang pada negara – negara maju dalam berbagai bidang, keuangan, ekonomi dan teknologi atau karena ingin mengejar kemajuan, sadar atau tidak, suka atau tidak, negara – negara berkembang sebenarnya juga mendukung proses globalisasi itu. Dalam pengertian ini, negara – negara berkembang juga merupakan subyek atau pelaku globalisasi, kalaupun lebih pasif sifatnya.
Globalisasi bukan hanya gejala abad ke – 20 atau abad ke – 21. Proses itu sudah mulai berabad – abad yang lalu ketika manusia berhasil mengelilingi dunia oleh para pionir seperti Marcopolo dan Colombus. Jadi, globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi. tetapi, dampaknya segera terasa dalam bidang kehidupan manusia, baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya hidup dan bahkan agama.
Apa yang membuat globalisasi suatu kecenderungan yang mencolok sejak menjelang akhir abad yang lalu, dan yang membedakannya secara tajam dari proses globalisasi dalam abad – abad yang lalu, adalah faktor kecepatan. Ini disebabkan oleh kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya dalam bentuk computer, faximile, internet, dan e-mail maupun kemajuan yang pesat dalam bidang transportasi, khususnya penerbangan antar benua.

A.    Trend Pergaulan Global
Pada tahun 1990, John Naisbit dan Patricia Aburdene, dalam bukunya yang berjudul “Megatrends 2000”, merumuskan sepuluh kecenderungan peralihan yang secara mendasar mengubah wajah kehidupan dunia global. Kesepuluh kecenderungan tersebut adalah :
Pertama, ledakanekonomi global dan globalisasi ekonomi
Kedua, kebangkitan kembali seni budaya
Ketiga, munculnya ekonomi pasar bebas sosialis
Keempat, berkembangnya gaya hidup global dan nasionalisme cultural
Kelima, swastanisasi negara – negara sejahtera
Keenam, bangkitnya wilayah pasifik
Ketujuh, bangkitnya kepemimpinan wanita
Kedelapan, kejayaan era biologi
Kesembilan, kebangkitan kembali agama
Kesepuluh, berjayanya individual.

 Kemudian tahun 1996, John Naisbitt kembali mengejutkan dengan ramalannya tentang fenomena yang akan terjadi di kawasan Asia di era global. Dalam buku Megatrends Asia, ia mengidentifikasi delapan kecenderungan utama yang sedangdan akan berlangsung di Asia dan berpengaruh besar pada perkembangan dunia kini dan masa depan. Kedelapan kecenderungan itu adalah : Pertama, peralihan dari negara bangsa (nation-state) menuju sistem jaringan. Kedua, peralihan dari tradisi – tradisi menuju pilihan – pilihan. Ketiga, peralihan dari orientasi export menuju orientasi konsumen. Keempat, peralihan dari control pemerintah menuju orientasi pasar. Kelima, peralihan dari pertanian menuju kota super. Keenam, peralihan dari padat karya menuju teknologi tinggi. Ketujuh, peralihan dari dominasi laki – laki menuju kebangkitan perempuan. Kedelapan, peralihan dari barat menuju timur.
Setelah beberapa tahun berlalu dari terbitnya kedua buku Naisbitt, kini kita bisa menyaksikan bahwa sampai tingkat tertentu, prediksi tersebut telah banyak yang menjadi kenyataan. Sebagian mungkin belum, tapi indikasi dan kecenderungan ke arah itu sudah mulai terlihat atau semakin jelas penampakannya.
Dari untaian diatas, maka dapat ditarik suatu hipotesis, bahwa secara umum pergaulan global yang terjadi saat ini dan yang akan datang dapat dirumuskan ciri – cirinya sebagai berikut :
1)     Terjadinya pergeseran dari konflik ideologi dan politik kearah persaingan perdagangan, investasi dan informasi dari keseimbangan kekuatan (balance of power) ke arah keseimbangan kepentingan (balance of interest).
2)     Hubungan antara negara/bangsa secara struktural berubah dari sifat ketergantungan (dependency) kearah saling ketergantungan (interdependent), hubungan yang bersifat primordial berubah menjadi sifat tergantung kepada posisi tawar menawar (bergaining position).
3)     Batas –batas geografis hampir kehilangan arti operasionalnya. Kekuatan suatu negara ditentukan oleh kemampuannya memanfaatkan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage).
4)     Persaingan antar negara sangat diwarnai oleh perang penguasaan teknologi tinggi. Setiap negara terpaksa menyediakan dana yang besar bagi penelitian dan pengembangan.
5)     Terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, efisien, tidak menghargai nilai dan norma yang ekonomi dianggap tidak efisien.

B.    Dampak Negatif Pergaulan Global
Pergaulan global dengan cirinya seperti diutarakan di muka di samping mendatangkan sejumlah kemudahan bagi manusia, juga mendatangkan efek – efek negatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1.     Pemiskinan nilai spiritual. Tindakan sosial yang tidak mempunyai implikasi materi (tidak produktif) dianggap sebagai tindakan yang tidak rasional.
2.     Kejatuhan manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, yang menyebabkan nafsu hayawaniyyah menjadi pemandu kehidupan manusia.
3.     Peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi wewenang sain (sekularistik).
4.     Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, dan tulisan tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan.
5.     Gabungan ikatan primordial dengan sistem politik modern melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoritisme.
6.     Individualistik. Keluarga pada umumnya kehilangan fungsinya sebagai unit terkecil pengambil keputusan. Seseorang bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, tidak lagi bertanggung jawab kepada keluarga. Ikatan moral pada keluarga semakin lemah, dan keluarga dianggap sebagai lembaga teramat tradisional.
7.     Terjadinya frustasi eksistensial, dengan ciri – cirinya : Pertama, hasrat yang berlebihan untuk berkuasa (the will to power), bersenang – senang untuk berkuasa, bersenang – senang mencari kenikmatan (the will to pleasure), yang biasanya tercermin dalam perilaku yang berlebihan untuk mengumpulkan uang (the will to money), untuk bekerja (the will to work), dan kenikmatan seksual (the will to sex). Kedua, kehampaan eksistensial berupa perasaan serba hampa, hidupnya tidak bermakna, dan lain – lain. Ketiga, neuroses noogenik : perasaan hidup tanpa arti, apatis, bosan, tak mempunya tujuan, dan sebagainya. Keadaan semacam ini semakin banyak melanda manusia, hari demi hari.
8.     Terjadinya ketegangan – ketegangan informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin, konsumeris, kekurangan dan sebagainya.
C.    Kiprah Islam di Era Globalisasi
Globalisasi adalah hal yang tidak dapat di hindari dan memang tidak perlu untuk di hindari. Persoalannya adalah bagaimana menampilkan Islam dalam kancah global tersebut. Agar Islam dapat memberikan konstribusi yang berarti bagi masyarakat global, maka Islam diharapkan tampil dengan nuansanya sebagai berikut :
Pertama, menampilkan Islam yang lebih ramah dan sejuk, sekaligus menjadi pelipur lara bagi kegerahan hidup manusia modern. Tawaran ini mengharuskan umat Islam menghayati nilai – nilai universal yang diajarkan Islam dan teologi inklusif yang diperankan oleh Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, tawaran ini akan menhapus kehampaan spiritual dan kekosongan sebagai gaya hidup Fir’aun akibat hiruk pikuk kehidupan global yang hedonistik dan materialistik.
Kedua, Islam yang toleran terhadap manusia secara keseluruhan agama apapun yang diaturnya. Sebab Islam adalah rahmatan lil-‘alamin, mendatangkan kebaikan dan kedamaian untuk semua. Dengan sikap ini, Islam mengakui tentang pluralisme, baik keberagaman pendapat, pemahaman, etnis dan agama.
Ketiga, menampilkan visi Islam yang dinamis, kreatif, dan inovatif sehingga bisa membebaskan umat Islam dari belenggu – belenggu dan penjara taqlid, status quo, menyukai kemapanan, dan alergi terhadap pembaharuan, harus ditinggalkan. Karena sikap – sikap tersebut menyebabkan kreatifitasnya sebagai manusia menjadi hilang.
Keempat, menampilkan Islam yang mampu mengembangkan etos kerja, etos politik, etos ekonomi, etos ilmu pengetahuan, dan etos ilmu pengetahuan, dan etos pembangunan karena sepanjang sejarah kelima etos itulah yang dapat mendatangkan kejayaan umat Islam.
Kelima, menampilkan revivalitas Islam, dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi “kedalam” (inward oriented) yakni membangun kesalehan intristik dan esoteris, daripada intensifikasi diarahkan “keluar” (outward oriented), yang lebih bersifat ekstrinsik dan eksoteris, yakni sekedar kesalehan formalitas.
Dari analisis di atas, dapat di tarik pemahaman bahwa peran Islam di era globalisasi perlu diarahkan pada peningkatan daya jawabnya terhadap problema kehidupan kontemporer, dan tetap berpegang teguh pada nilai – nilai ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Salah satu upaya ke arah itu adalah umat Islam harus mampu mengambil nilai positif dari kemodernan dan tetap memberi apresiasi yang wajar terhadap khazanah intelektual Islam klasik sesuai dengan kebutuhan. Sehingga jargon “al-islam sholihun li kulli zaman wa makan” dapat di transformasikan sesuai dengan kenyataan empirik yang dihadapi oleh umat Islam, kini dan yang akan datang.




















BAB III
PEMECAHAN MASALAH




















BAB IV
PENUTUP


Globalisasi bukan hanya gejala abad ke – 20 atau abad ke – 21. Proses itu sudah mulai berabad – abad yang lalu ketika manusia berhasil mengelilingi dunia oleh para pionir seperti Marcopolo dan Colombus. Jadi, globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi. tetapi, dampaknya segera terasa dalam bidang kehidupan manusia, baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya hidup dan bahkan agama.
Apa yang membuat globalisasi suatu kecenderungan yang mencolok sejak menjelang akhir abad yang lalu, dan yang membedakannya secara tajam dari proses globalisasi dalam abad – abad yang lalu, adalah faktor kecepatan. Ini disebabkan oleh kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya dalam bentuk computer, faximile, internet, dan e-mail maupun kemajuan yang pesat dalam bidang transportasi, khususnya penerbangan antar benua.
Globalisasi adalah hal yang tidak dapat di hindari dan memang tidak perlu untuk di hindari. Persoalannya adalah bagaimana menampilkan Islam dalam kancah global tersebut.









DAFTAR PUSTAKA


IAIN Sunan Ampel Surabaya, Tim Penyusun. “Pengantar Studi Islam”. 2004. IAIN SUNAN AMPEL PRESS

0 komentar:

Poskan Komentar