Minggu, 02 Desember 2012

I'Jazul Al-Qur'an



MAKALAH ULUMUL QUR’AN
I’JAZUL QUR’AN

Diajukan sebagai tugas mata kuliah

Disusun Oleh         :
1.     Fahrun Nisak                        (201205010073)
2.     Akhmad Mirza’ul Fikri           (201205010077)
3.     Serifah Dini Fitria                  (201205010088)
4.     Siti Nur Cholifatur Rohma     (201205010093)
5.     Muhammad Suliono              (201205010095)

FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS SUNAN GIRI
SURABAYA


2012
KATA PENGANTAR

P
uji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya MAKALAH ULUMUL QUR’AN tentang I’Jazul Qur’an. Dengan adanya MAKALAH ini kita dapat mengetahui pengertian I’jaz dalam al-Qur’an , Unsur apa saja yang menyertai mu’jizat al-Qur’an, Bagaimana cara memahami mu’jizat al- Qur’an.

Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas mata pelajaran ULUMUL QUR’AN di FAI UNSURI SIDOARJO. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang dimiliki kami. Serta kami mengucapkan banyak terima kasih untuk pihak-pihak yang telah membantu kami. Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

Sidoarjo, Oktober 2012


Penyusun




DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                                            ii
Daftar Isi                                                                                      iii

BAB 1 - PENDAHULUAN                                                               1
A.         Latar Belakang                                                          1
B.         Rumusan Masalah                                                    1
C.         Tujuan                                                                      2

BAB 2 – PEMBAHASAN                                                                3
A.    Pengertian I’Jazul Qur’an                                           3
B.    Macam – macam I’Jazul Qur’an                                 4
C.    Tujuan adanya Mukjizat Al-Qur’an                              6
D.    Cara memahami Mukjizat                                          7
BAB 3 – PENUTUP                                                                       11     
A.         Kesimpulan                                                               11
B.        Kesan                                                                       11
                   
Daftar Pustaka                                                                              12


 
1
PENDAHULUAN


A.             Latar Belakang
Sudah menjadi kelaziman dari munculnya seorang rasul dengan seruan agama baru untuk disertai dengan mukjizat. Dengan mu’jizat itu seorang rasul baru diberdayakan oleh Allah untuk sanggup membalikkan pandangan umatnya yang sedang mengalamai fase keterkaguman dengan salah satu aspek kehidupan keduniaan, menuju jalan agama Allah yang lurus. Sejarah nabi dan rasul menunjukkan corak mu’jizat yang tidak lain sebagai respon logis dari tuntutan realitas kehidupan umat.
Fenomena al-Quran sebagai mu’jizat, berikut segala segi dan fungsinya, akan banyak ditelaah dalam tulisan ini. Pembahasan al-Quran sebagai mu’jizat oleh para ulama masih menyisahkan perbedaan pendapat tentang derivasi serta domain kemu’jizatan al-Quran ditambah lagi munculnya pendapat yang cenderung melimitasi pada segi kemu’jizatan dengan menafikan segi yang lain. Berangkat dari sini, penulis bermaksud untuk mengkaji beberapa segi kemukjizatan al-Quran yang diharapkan dapat menampilkan keterwakilan seluruh pergolakan pendapat dan pemikiran yang bergulir disekitar obyek telaah kemu’jizatan al-Quran.

B.             Rumusan Masalah
1.     Apa yang dimaksud dengan I’jazul Qur’an ?
2.     Ada berapa macam I’jaz dalam al-Qur’an?
3.     Apa tujuan adanya Mukjizat Al-Qur’an?
4.     Bagaimana cara memahami mu’jizat al- Qur’an?


C.             Tujuan
1.     Untuk mengetahui tentang pengertian I’jazul Qur’an
2.     Untuk mengetahui macam – macam I’jaz dalam Al-Qur’an
3.     Untuk mengetahui tujuan dari adanya mukjizat Al-Qur’an
4.     Serta untuk mengetahui bagaimana cara memahami mukjizat al-Qur’an


























2
PEMBAHASAN


A.             Pengertian I’Jazul Qur’an
Kata i’jaz diambil dari kata kerja a’jaza-i’jaza yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu.
Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam, antara lain sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya sebagai tantangan bagi orang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi tidak melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat didefinisikan pula sebagai suatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah SWT. Melalui para Nabi dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya. Atau Manna’ Al-Qhathan mendefinisikannya demikian:
أَمْرُ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّيْ سَالِمٌ عَنِ اْلمُعَارَضَةِ.
Artinya:
“Suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi.”

I’jazul Qur’an adalah kekuatan, keunggulan dan keistimewaan yang dimiliki Al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia, baik secara terpisah maupun berkelompok-kelompok, untuk bisa mendatangkan minimal yang menyamainya. Kadar kemukjizatan Al-Qur’an itu meliputi tiga aspek, yaitu : aspek bahasa (sastra, badi’, balagah/ kefasihan), aspek ilmiah (science, knowledge, ketepatan ramalan) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat).[1]


 
¹Muhammad Ali Ash Shabuni. Pengantar Studi Al-Quran, terjemah H. Muhammad Khudhori Umar dan Muh. Matsna HS (Bandung; Al Ma’arif, 1987), hlm. 102-103


B.             Macam – Macam I’Jaz dalam Al-Qur’an
Secara umum mukjizat dapat digolongkan menjadi dua klasifikasi, yaitu:
a)     Mu’jizat Indrawi (Hissiyyah)
Mukjizat jenis ini muncul dari segi fisik yang mengisyaratkan adanya kesaktian seorang nabi. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud dapat melunakkan besi serta mukjizat nabi-nabi dari bani Israil yang lain. Imam Jalaludin as-Suyuthi, beliau berpendapat bahwa kebanyakan mukjizat yang ditanpakkan Allah pada diri para nabi yang diutus kepada bani Israil adalah mukjizat jenis fisik. [2]
b)     Mukjizat Rasional (‘aqliyah)
Mukjizat ini tentunya sesuai dengan namanya lebih banyak ditopang oleh kemampuan intelektual yang rasional. Dalam kasus al-Quran sebagai mukjizat nabi Muhammad atas umatnya dapat dilihat dari segi keajaiban ilmiah yang rasional dan oleh karena itulah mukjizat al-Quran ini bisa abadi sampai hari Qiamat. Oleh karena itu al-Quran dalam meukjizat rasional, sisi i’jaznya hanya bisa diketahui dengan kemampuan intelektual, lain halnya dengan mukjizat fisik yang bisa diketahui dengan instrument indrawi. Meskipun al-Quran diklasifikasian sebagai mukjizat rasional ini tidak serta merta menafikan mukjizat-mukjizat fisik yang telah dianugrahkan Allah kepadanya utnuk memperkuat dakwahnya.
Dalam sebuah buku yang berjudul ”Al-I’jaz Qur’any fi Wujuhil Muktasyifah”, macam-macam i’jaz Al-Qur’an yan terungkap antara lain: i’jaz balaghi (berita mengenai hal ghaib), i’jaz tasyri’ (perundang-undangan), i’jaz ilmi, i’jaz lughawi (keindahan redaksi Al-Qur’an), i’jaz thibby (kedokteran), i’jaz falaky (astronomi), i’jaz adady (jumlah), i’jaz i’lami (informasi), i’jaz thabi’i (fisika) dan lain sebagainya. Karena banyaknya berbagai macam i’jaz Al-Qur’an, maka dalam hal ini akan diuraikan beberapa bagian dari macam-macam i’jaz Al-Qur’an yang disebut dalam buku ”Al-I’jazal Qur’any fi wujuhil Muktasyifah”, antara lain:


 
²As-Suyuthi Jalaludin. al-Itqon fi Ulumi al-Quran, juz II. Mesir: Muassasah al-kutub as-Saqofiyah, t.t.

Ø  I’jaz Balaghy (berita tentang hal-hal yang ghaib)
Sebagian ulama’ mengatakan bahwa mukjizat Al-Qur’an adalah berita ghaib, contohnya adalah Fir’aun yang mengejar Nabi Musa as, hal ini diceritakan dalam QS. Yunus: 92,Artinya:”Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami” .Berita-berita ghaib yang terdapat pada wahyu Allah SWT yakni Taurat, Injil, dan Al-Qur’an merupakan mukjizat. Berita ghaib dalam wahyu Allah SWT itu membuat manusia takjub, karena akal manusia tidak mampu mencapai hal-hal tersebut.
Ø  I’jaz Lughawy (keindahan redaksi Al-Qur’an)
Menurut Shihab (dalam Rosihon Anwar, 2000:34) memandang segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an dalam 3 aspek, di antaranya aspek keindahan dan ketelitian redaksinya. Dalam Al-Qur’an dijumpai sekian banyak contoh keseimbangan yang serasi antara kata-kata yang digunakan, yaitu:
a       Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya.
b       Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau makna yang dikandungnya.
c       Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah yang menunjukkan akibatnya.
Ø  I’jaz ’Ilmi
Di dalam Al-Qur’an, Allah mengumpulkan beberapa macam ilmu, di antaranya ilmu falak, ilmu hewan. Semuanya itu menimbulkan rasa takjub. Beginilah i’jaz Al-Qur’an ilmi itu betul-betul mendorong kaum muslimin untuk berfikir dan membukakan pintu-pintu ilmu pengetahuan.
Menurut Quraish Shihab, banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Qur’an, misalnya: Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri dan cahaya bulan merupakan pantulan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 5. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan nafas. Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah: ”Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dada orang itu untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.” (QS. Al-An’am: 125) .

Ø  I’jaz Tasyri’i
Al-Qur’an menetapkan peraturan pemerintah Islam, yakni pemerintah yang berdasarkan musyawarah dan persamaan serta mencegah kekuasaan pribadi. Firman Allah SWT: ”Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Ali Imron: 159). Di dalam pemerintahan Islam, tasyri’i itu tidak boleh ditinggalkan. Al-Qur’an telah menetapkan bila keluar dari tasyri’ Islam itu hukumnya kafir, dzalim, dan fasik. Firman Allah SWT: ”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka ini adalah orang-orang kafir” (QS. Al-Maidah: 44). Al-Qur’an menetapkan perkara yang sangat dibutuhkan oleh manusia, yakni agama, jiwa, akal, nasab (keturunan) dan harta benda.
Ø  I’jaz ’Adady (Jumlah)
I’jaz ’adady merupakan rahasia angka-angka dalam Al-Qur’an. Seperti dikatakan ”sa’ah” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam sehari semalam. Selain itu Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada tujuh. Penjelasan ini diulangi sebanyak tujuh kali pula dalam surat Al-Baqoroh: 29, surat Al-Isra’: 44, surat Al-Mukminun: 86, surat Fushshilat: 12, surat Ath-Thalaq: 12, surat Al-Mulk: 3, dan surat Nuh: 15.
Adapula kata-kata yang menunjukkan utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau basyir (pembawa berita gembira) atau nadzir (pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini sama dengan penyebutan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita yakni 518 kali.

C.             Tujuan Adanya Mukjizat Al-Qur’an
Dari pengertian yang telah diuraikan di atas,dapatlah diketahui bahwa tujuan I’jazul qur’an itu banyak,diantaranya yaitu :
1.     Membuktikan bahwa Nabi Muhammad yang membawa mukjizat kitab al qur’an itu adalah benar-benar seorang nabi dan rasul Allah.Beliau diutus untuk menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umat manusia dan untuk mencanangkan tantangan supaya menandingi al qur’an kepada mereka yang ingkar. menyampaikan ajaran-ajaran Allah kepada umat manusia dan untuk mencanangkan tantangan supaya menandingi al qur’an kepada mereka yang ingkar.
2.     Membuktikan bahwa kitab al qur’an itu adalah benar-benar wahyu Allah,bukan buatan malaikat Jibril dan bukan tulisan nabi Muhammad.Sebab pada kenyataannya mereka tidak bisa membuat tandingan seperti Al Qur’an sehingga jelaslah bahwa al qur’an itu bukan buatan manusia.
3.     Menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghahnya bahasa manusia khususnya bangsa arab,karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab tandingan yang sama seperti al qur’an,yang telah ditantang kepada mereka dalam berbagai tingkat dan bagian al qur’an.
4.     Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombongannya.Mereka ingkar tidak mau beriman dan sombong tidak mau menerima kitab suci itu.

D.             Cara Memahami Mukjizat Al-Qur’an
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan guna mempermudah pemahaman bukti-bukti itu.
a)     Kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw. seorang yang tidak gila kedudukan, harta, dan wanita. Hal ini dibuktikan, ketika beliau diminta agar memberhentikan dakwahnya. Jika beliau mau menerima permintaan ini, tokoh-tokoh kaum musyrik Makkah memberikan kepadanya kedudukan, harta, dan wanita. namun itu semua ditolaknya, bahkan beliau menjawab:
Walau matahari diletakkan di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, tidak akan kutinggalkan misiku sampai berhasil atau aku gugur mempertahankannya, “jawab beliau.
Nabi yang ummi telah membawa Al-Quran yang mu’jiz dalam hal lafal dan maknanya. la tidak pernah belajar dari guru mana pun. Ia tidak pernah ber­guru kepada siapa pun. Ini dinyatakan Allah SWT,
Katakan: “ Jika Allah menghendaki, aku tidak akan membacakannya, kepadamu dan la pun tidak akan mengajarkannya kepadamu. Bukankah aku telah hidup sepanjang usiaku di tengah-tengah kamu. Tidakkah kamu merenungkannya." (Yunus 16).
Al-Qura juga   menyataka bahwa   seandainy Muhamma dapat membaca  atau  menulis  pastilah  akan  ada  yang  meragukan  kenabian  beliau.

b)     Kondisi Masyarakat Saat Turunnya Ayat
Tentu banyak sisi dari kondisi masyarakat yang dapat dikemukakan, namun yang terpenting dalam konteks uraian tentang mukjizat adalah perkembangan ilmu pengetahuan, kemampuan ilmiah masyarakat Arab, serta masyarakat umat manusia secara umum.
Al-Quran menamai masyarakat Arab sebagai masyarakat ummiyyin. Kata ini adalah bentuk jamak dari kata ummiy yang terambil dari kata umm yang anti harfiahnya adalah ibu dalam arti bahwa seorang ummiy adalah yang keadaannya sama dengan keadaan pada saat dilahirkan oleh ibunya dalam hal kemampuan membaca dan menulis.
Kemampuan tulis baca di kalangan masyarakat Arab—khususnya pada awal masa Islam—sangat minim, sampai-sampai ada riwayat yang menyebut jumlah mereka yang pandai menulis ketika itu tidak lebih dari belasan orang.
Jika demikian, pengetahuan masyarakat non-Arab pada masa turunnya Al-Quran bukan atas dasar metode ilmiah yang sistematik atau pengamatan dan hasil percobaan-percobaan dalam dunia empiris.
Semuanya itu kemudian mengantarkan ilmuwan untuk berkata bahwa masyarakat manusia secara umum belum lagi memiliki ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Memahami kondisi masyarakat dan perkembangan pengetahuan pada masa turunnya Al-Quran akan menunjang bukti kebenaran Al-Quran saat disadari betapa kitab suci ini memaparkan hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal kecuali pada masa-masa sesudahnya.


c)     Masa dan Cara Kehadiran Al-Quran
Hal ketiga yang tidak kurang pentingnya dalam upaya lebih meyakinkan tentang kemukjizatan Al-Quran adalah masa dan cara turunnya wahyu AlQuran kepada Nabi Muhammad Saw.
Banyak aspek uraian yang berkaitan dengan topik ini, tetapi yang perlu digarisbawahi dalam konteks pembuktian kemukjizatan Al-Quran adalah :
1.     Kehadiran wahyu Al-Quran diluar kehendak Nabi Muhammad Saw.
2.     Kehadirannya secara tiba-tiba.
Menyangkut butir pertama, baik untuk diketahui bahwa tidak jarang Nabi Muhammad Saw. membutuhkan penjelasan bagi sesuatu yang sedang dihadapinya tetapi penjelasan yang dinantikan itu tak kunjung datang.
Setelah sepuluh kali menerima wahyu yang dimulai dengan awal surah (1) Iqra’, (2) Al-Qalam, (3) Al-Muddatstsir, dan (4) Al-Muzzammil, kemudian (5) surah Al-Masad, (6) At-Takwir, (7) Sabbihisma, (8) Alam Nasyrah, (9) A1-’Ashr dan (10) Al-Fajr, tiba-tiba wahyu terputus kehadirannya. Sekian lama beliau menanti dan mengharap tetapi Jibril - pembawa wahyu - tidak kunjung datang, maka timbul rasa gelisah di hati Nabi SAW. Sedemikian besar kegelisahan itu, sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa beliau nyaris menjatuhkan diri dari puncak gunung. Orang-orang musyrik Makkah pun mengejek beliau dengan berkata, “Tuhan telah meninggalkan Muhammad dan membencinya.” Kegelisahan ini baru berakhir dengan turunnya Q.S. al-Dhuha/93: 1 - 3
وَالضُّحَى(1)وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى(2)مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى(3)
Demi al-dhuha, dan malam ketika hening. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidakpula membenci.
Sumpah Allah terhadap Muhammad dengan tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu waktu dhuha, dan malam hari dengan kegelapannya.   Isi sumpah-Nya Bahwa Allah tidak meninggalkannya dan tidak membencinya. Hal ini menunjukkan bahwa wahyu adalah wewenang-Nya. Jadi, andaikata Nabi Saw. menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan tidak menghendaki, wahyu tak akan datang. Ini membuktikan bahwa wahyu merupakan ketetapan-Nya, bukan hasil perenungan Nabi.
























3
PENUTUP


A.             Kesimpulan
·       I’jazul Qur’an merupakan bagian terpenting dari Ulumul Qur’an,karena I’jazul Qur’an berfungsi sebagai pembawa kebenaran, bahwa Al Qur’an yang diwahyukan kepada nabi Muhammad adalah murni dari Allah dan tidak ada unsur-unsur apapun yang bisa menandingi arti dan makna yang terkandung dalam Al Qur’an walau satu ayat.
·       Dengan mempelajari I’jaz Al Quran akan semakin memperkokoh keimanan dan menambah kwalitas keilmuan seseorang.


B.             Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA


Qaththan, Manna’al. 1995. Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 2. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Muhammad Ali Ash Shabuni. Pengantar Studi Al-Quran, terjemah H. Muhammad Khudhori Umar dan Muh. Matsna HS (Bandung; Al Ma’arif, 1987)

0 komentar:

Poskan Komentar